Nicolau dos Reis Lobato

Pengantar

Nicolau dos Reis Lobato, Presiden kedua Republik Demokratik Timor-Leste, mati dalam pertempuran melawan sepasukan tentara Indonesia di bawah pimpinan Kapten Prabowo Subianto pada 31 Desember 1978 di lembah Mindelo, di kawasan tengah Timor-Leste.

Perdana Menteri Timor-Leste Xanana Gusmao kepada media lokal bulan ini mengatakan bahwa dirinya telah meminta Presiden Indonesia S.B. Yudhoyono untuk mengembalikan tulang-belulang Nicolau Lobato dan bahwa Presiden Yudhoyono telah memerintahkan pencarian tulang-belulang tersebut. Tetapi tidak ada berita dari sumber Indonesia.

Berikut adalah terjemahan riwayat singkat Nicolau Lobato yang dikeluarkan oleh Komite Sentral FRETILIN.

Riwayat Hidup Presiden Nicolau dos Reis Lobato

Nicolau dos Reis Lobato dilahirkan pada 24 Mei 1946 di Sasatan Oan, Aitara Hun, Soibada, Posto Laclubar di Manatuto. Anak tertua dari Narciso Manuel Lobato, yang berasal dari Leorema, Posto Bazartete di Liquiça, dan Felismina Alves Lobato, yang dilahirkan di Malurucumo, Macadique, Posto Uatolari di Viqueque. (Ayah dari ibunya bernama Domingos da Costa Alves, berasal dari Samora, Soibada yang bekerja sebagai guru agama Katolik di Uatolari, sehingga ibunya dilahirkan di Malurucumo, Macadique).

Kedua orangtunya memiliki 13 anak, yaitu: 1. Nicolau dos Reis Lobato sebagai anak sulung, 2. António Bosco Lobato, 3. Rogério Tiago de Fátima Lobato, 4. Maria Cesaltina Francisca Alves Lobato, 5. Januario do Carmo Alves Lobato, 6. Domingos Cassiano Maria da Silva Lobato, 7. Luis Francisco de Assunção Alves Lobato, 8. Silvestre Lobato, 9. Madalena de Canossa Alves Lobato, 10. Elga Maria do Rosário Alves Lobato, 11. Jose Bernardo Alves Lobato, 12. Silvestre Agostinho Alves Lobato, 13. Elisa Maria Lobato. Dari keluarga besar ini hanya satu orang yang masih hidup, Rogério Fátima Tiago Lobato. Ayahnya meninggal karena penyakit pada 26 April 1976 di Leorema. Ibunya dibunuh di Gunung Maubere di Laclubar pada bulan Juli 1979. Semua saudara dan saudarinya, kecuali Silvestre Lobato yang baru lahir, meninggal sebagai pejuang dalam perjuangan panjang untuk pembebasan nasional.

Nicolau dos Reis Lobato tinggal di Soibada sampai berusia tiga belas tahun, mengikuti pendidikan dasar di Colégio Nuno Alvares Pereira. Salah seorang teman sekolahnya adalah Alberto Ricardo da Silva, sekarang Uskup Dili. Nicolau melanjutkan pendidikan bersama dengan Alberto Ricardo da Silva di Seminari Minor Nossa Senhora de Fátima di Dare, dan menyelesaikan kelas lima Humaniora dengan gemilang untuk semua mata pelajaran, khususnya Bahasa Portuguese dan matematika. Teman-teman masa kanak-kanaknya, selain saudara-saudaranya António and Rogério, adalah António Cesaltino Osorio Soares, Abí¬lio Osório Soares, Luis Viana do Carmo and João Bosco do Carmo, tetangga dan anak-anak guru-guru Fernando Soares dan José Carmo.

Nicolau dos Reis Lobato dipermandikan oleh Father Januário Coelho da Silva di Paroki Imaculada Conceição de Soibada, di Misi Katolik yang namanya sama. Bapak permandiannya adalah Fulgéncio dos Reis Ornay, penguasa tradisional Fehuc Rin di Barique, dan teman ayahnya. Sebagai seorang anak dia dipilih untuk memerankan malaikat dalam kunjungan ke Timor-Leste patung Nossa Senhora de Fátima pada tahun 1951. Dia menerima semua pendidikan Katoliknya di Soibada dan Dare, dan menjadi seorang pemeluk Katolik yang teguh. Sebagai pemuja Nossa Senhora de Aitara, dia membawa sendiri patung Maria Perawan Suci itu, menyembunyikannya di satu tempat rahasia yang bernama Anin Kuak (Gua Angin) di Soibada supaya tidak diprofankan. Sebagai seorang pelindung para pastor Katolik selama perang, orang kepercayaan dan penerima pengakuan dosanya adalah Pastor Francisco Tavares, sekarang pastor paroki di Misi Katolik di Ainaro.

Keyakinan Katoliknya terlihat ketika dalam perjalanan pengunduran ke pegunungan sekitar Dili karena invasi Indonesia, Nicolau melalui Dare dan meminta Pastor Ricardo Alberto da Silva untuk menyelenggarakan misa untuk Timor-Leste. Setelah misa dan ketika mengucapkan perpisahan, Nicolau berkata kepada Pastor Ricardo, “Kalau aku mati, tolong selenggarakan misa untuku.” Temannya ini memenuhi keinginannya setelah kematiannya, dengan menyelenggarakan misa untuk jiwanya.

Pada tahun-tahun mengikuti pendidikan di seminari, dia dipilih oleh Rektor menjadi ketua siswa-siswa seminari selama tiga tahun berturut-turut. Dalam tahun-tahun inilah dia menempa karakternya sebagai seorang pribadi manusia, pemimpin, dan olahragawan. Pada tahun 1965 dia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan pastor dan meninggalkan seminari.

Setelah meninggalkan seminari, Nicolau dos Reis Lobato ingin mengikuti pendidikan hukum di Coimbra, Portugal. Tetapi ia terhalang mewujudkan impiannya karena ayahnya sakit dan dia harus membantu membiayai pendidikan adik-adiknya, dan juga karena tidak adanya dukungan beasiswa dari pemerintah Portugis pada waktu itu. Ia pun melanjutkan pendidikan menengah kelas tujuh di Liceu Dr. Francisco Machado di Dili, dimana dia lulus dengan prestasi akademis yang tinggi untuk mata pelajarah filsafat, organisasi politik dan administrasi nasional, dan bahasa Portugis.

Di Dili, setelah meninggalkan seminari, atas permintaan kedua orangtuanya, dia tinggal di rumah sepupu ibunya di Bidau, Armindo da Costa Tilman dan Lidia da Silva Boavida, yang keduanya memperlakukannya sebagai anak sendiri. Ketika tinggal di sana dia rajin mengikuti misa di Lecidere yang diselenggarakan oleh Uskup Dili waktu itu, Dom Jaime Garcia Goulart.

Pada tahun 1966 dia mulai memasuki dinas wajib Angkatan Bersenjata Portugis. Dia menyelesaikan pendidikan Sekolah Sersan sebagai siswa terbaik karena yang pertama lulus, disusul oleh João Viegas Carrascalão pada urutan kedua, dan Moisés da Costa Sarmento urutan ketiga. Moisés kemudian menjadi iparnya karena menikah dengan adiknya, Maria Cesaltina Francisca Alves Lobato. Adik dan iparnya ini dibunuh dengan biadab di Ratahu, Viqueque pada 1979.

Ketika dalam dinas militer Portugis dia pertama ditugaskan di Pos Militer Bazartete. Setelah naik pangkat Quartermaster, dia dipindahkan ke Kompi Pemburu 15 di Caicoli dan diangkat menjadi petugas seniro yang bertanggungjawab atas barak-barak. Di sinilah dia menjadi kenal dengan Sersan Satu Timane asal dari Nampula di Mozambique yang secara rahasia memberikan informasi padanya mengenai perjuangan gerakan pembebasan nasional Mozambique.

Di tahun 1968 dia kembali ke kehidupan sipil setelah menyelesaikan dinas wajib militer. Pertama dia menjadi seorang pegawai negeri sipil di Dinas Agronomi Timor. Di sanadia bertemu dengan seorang Pengawas Pertanian, Marcelino, yang berasal dari Cabo Verde, yang memberinya keterangan mengenai PAIGC dan perjuangan pembebasan nasional di Guinea dan Cabo Verde. Saat itulah Nicolau mulai secara rahasia membaca buku-buku mengenai perjuangan pembebasan di koloni-koloni Portugis di Africa.

Dia kemudian pindah dari Dinas Agronomi ke departemen keuangan setelah lulus dalam proses rekrutmen dengan kategori Petugas Ketiga. Di departemen keuangan dia diberi tugas mengurus gaji dan tunjangan untuk seluruh pegawai negeri di Timor-Leste. Sebagai olahragawan dia bermain bola volley, bola basket, dan sepak bola, dan menonjol sebagai pemain Clube Desportivo milik União dan kemudian Clube Desportivo milik Academica.

Ketika bekerja sebagai pegawai sipil di departemen keuangan inilah Nicolau dos Reis Lobato memulai tahap baru dalam kehidupannya. Dia bertemu dengan Isabel Barreto dan kemudian menikah pada 1972 di kapela Bazartete dan pesta perayaannya diselenggarakan di Laulema, di rumah kediaman orangtua Isabel Barreto. Misa pernikahan diselenggarakan oleh Pastor Simpli¬cio do Menino Jesus, seorang misionaris dari Goa dan pastor paroki Liquiça. Mereka punya satu anak laki-laki, José Maria Barreto Lobato, satu-satunya yang hidup dari keturunan mereka. Istri Nicolau, Isabel, dibunuh dengan biadab di dermaga Dili pada 7 Desember 1975, hari ketika Indonesia menyerang Timor-Leste. Anak laki-laki itu diadopsi oleh Paman José Gonçalves dan Bibi Olimpia Barreto dan diberi nama José Maria Barreto Lobato Goncalves.

Pada pertengahan 1974 setelah Revolusi Bunga Anyelir 25 April 1974 di Portugal, Nicolau Lobato mengundurkan diri dari dinas pemerintahan Portugis supaya bisa mencurahkan sepenuh waktunya bagi pembentukan ASDT (Asosiasi Sosial-Demokrat Timor) dan perjuangan pembebasan nasional Timor-Leste.

Pada waktu perubahan dari ASDT menjadi FRETILIN (Front Revolusioner Kemerdekaan Timor-Leste) pada 11 September 1974, dia dipilih menjadi Wakil Ketua.

Nicolau Lobato memimpin aksi menjawab penyerangan bersenjata UDT terhadap FRETILIN yang dilakukan pada 11 Agustus 1975 dalam kedudukannya sebagai Wakil Ketua FRETILIN dan tanpa halangan dari Ketua FRETILIN, Xavier do Amaral. Yaitu:

1. Pada sore hari 11 Agustus 1975, dengan dukungan Mari Alkatiri, Alarico Fernandes dan Mau Lear, Nicolau Lobato memimpin sejumlah anggota Komite Sentral FRETILIN mundur dari Dili;

2. Pada 13 Agustus, dia memimpin pemunduran lebih jauh dari pegunungan sekitar Dili ke Ai-Sirimou di Aileu;

3. Di Ai-Sirimou, Nicolau Lobato memimpin delegasi Komite Sentral FRETILIN menghudungi orang Timor-Leste yang menjadi prajurit dan sersan Angkatan Bersenjata di Barak Aileu untuk menjelaskan keadaan politik dan militet di Timor-Leste;

4. Pada 15 Agustus, karena tidak adanya Ketua FRETILIN dan dengan kerjasama dari anggota-anggota Komite Sentral FRETILIN, khususnya Mari Alkatiri, dia di Ai-Sirimou mengumumkan “Kebangkitan Bersenjata Umum Rakyat”, menyurun strategi untuk perjuangan rakyat jangka panjang; pada hari yang sama Nicolau Lobato, Mari Alkatiri, Alarico Fernandes, dan sejumlah anggota Komite Sentral lainnya, atas nama Komite Sentral FRETILIN, mendirikan FALINTIL (Tentara Nasional untuk Pembebasan Nasional Timor-Leste) dan membentuk kompi pertama dari tentara ini;

5. Pada 17 Agustus, dalam satu operasi terencana dengan prajurit-prajurit dan sersan-sersan Timores-Leste di kompi Aileu, Nicolau Lobato memimpin aksi yang memaksa perwira-perwira Portugis menyerahkan komando atas kompi tersebut kepada orang Timor-Leste (Sersan José da Silva);

6. Sejak hari itu, Nicolau Lobato memimpin seluruh operasi kontra-ofensif politik dan militer;

7. Dalam bulan-bulan September sampai November, dia menyusun garis besar strategi politik dan militer. Dia selalu mengemukakan perlunya Portugal kembali untuk mengambil kembali tanggungjawab melaksanakan dekolonisasi Timor-Leste; dia memusatkan segala upaya untuk menemukan saling pengertian di antara rakyat Timor-Leste sebafai titik awal untuk penyelesaian politik atas konflik yang terjadi;

8. Karena semua upaya tidak mendapatkan hasil, dia memulai proses yang menghasilkan pernyataan sepihak kemerdekaan Timor-Leste pada 28 November 1975;

9. Dalam pemerintah yang dibentuk setelah proklamasi tersebut, Nicolau Lobato menjadi Perdana Menteri;

10. Pada tahun 1977, menghadapi persoalan-persoalan yang muncul di dalam FRETILIN, Nicolau Lobato diangkat menjadi Ketua FRETILIN, Presiden Republik, dan Panglima FALINTIL;

11. 31 Desember 1978, Nicolau Lobato meninggal dunia dalam pertempuran di lembah Mindelo, yang terletak di antara Maubisse, Turiscai dan Manufahi.

Tabur bunga untuk Nicolau Lobao yang mati dalam pertempuran melawan pasukan tentara Indonesia di bawah pimpinan Kapt. Dili, 31 Desember 2009, sekitar pukul 10 pagi hari. Prabowo Subianto. Dari kiri ke kanan: Ketua Fretilin Lu-Olo, Uskup Dili Dom Alberto Ricardo, Sekretaris Jenderal Fretilin Mari Alkatiri, Perdana Menteri Timor-Leste Xanana Gusmao, dan seorang pembawa bunga (yang aku tidak tahu namanya).

Seorang gadis kecil dengan foto Nicolau dos Reis Lobato sebagai seorang combatant. Foto agaknya diambil pada hari-hari menjelang invasi tentara Indonesia 7 Desember 1975.

Nicolau dos Reis Lobato. Foto diambil tahun 1974 setelah pembentukan ASDT (Asosiasi Sosial Demokratik Timor-Leste) yang beberapa bulan kemudian berubah menjadi FRETILIN (Front Revolusioner Kemerdekaan Timor-Leste)

Luis Lobato (Wakil Menteri Kesehatan 2002-2007) berbicara mewakili keluarga Lobato.

Sebagian anggota keluarga Lobato menghadiri tabur bunga di pantai kawasan Farol (Mercu Suar) Dili

Jose Alexandre ‘Kayrala Xanana’ Gusmao (PM Timor-Leste mantan anggota Komite Sentral Fretilin) menangis mengenang kebersamaannya dengan Nicolau Lobato. “Nicolau Lobato dan Mari [Alkatiri] yang mengajak saya masuk Fretilin. Saya pun menjadi bagian. Fretilin yang mengajar politik kepada saya. Saya bangga pernah menjadi bagian Fretilin.,” katanya.

“Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan Nicolu Lobato. Dia bukan hanya pemimpin Fretilin. Dialah pemimpin rakyat Timor-Leste,” kata João Carrascalão, pemimpin União Democrátia de Timor (UDT) yang pada 11 Agustus 1975 melancarkan ‘golpe’ (operasi militer menangkapi pemimpin-pemimpin Fretilin yang radikal) sehingga memulai ‘perang saudara’ di Timor-Leste. João Carrascalão adalah teman dekat Nicolau sejak kecil hingga dewasa.

Xanana Gusmão membisikkan sesuatu (dalam bahasa Portugis) kepada Mari Alkatiri. Sepertinya mereka janjian mau ketemu. Sebelumnya Alkatiri mengatakan Fretilin menyerukan ‘persatuan nasional’ baru untuk dasawarsa 2010-2020.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

6 Responses to Nicolau dos Reis Lobato

  1. leocadio jose da silva says:

    FRETILIN adalah darah daginku, NIcolau dan semua anak-anak maubere yang telah gugur adalah panutan hidup saya. SALAM REVOLUSIONER

  2. Pretty! This was an incredibly wonderful article. Many thanks
    for supplying this info.

  3. Every weekend i used to pay a visit this website,
    as i want enjoyment, since this this site conations genuinely nice
    funny stuff too.

  4. That is a great tip especially to those new to
    the blogosphere. Simple but very precise info… Appreciate your sharing this one.
    A must read article!

  5. It’s remarkable to pay a visit this site and reading the views of all friends concerning this post, while I am also eager of getting familiarity.

  6. pholly1412 says:

    Luta nai sira hanoin hikas fali ba matebian Presidenti permerio nebe mak lidera hela ita nia rai doben Timor Leste ne’e, maibe agora nia la hamutu ho ita ona mai ita sei renova ou haklekar nia historia ba gerasaun foun sira ba futuru…….?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s