Ular Rheik, mantan GPK Timtim (Comandante Região 4 Falintil)

Rabu sore, 6 Januari 2010, Mayor Ular Rheik, mantan Comandante Região 4 Falintil, yang menjadi kepala administrasi keuangan F-FDTL (Angkatan Pertahanan Timor-Leste) meninggal dunia. Sehari sebelumnya ia dibawa ke Rumah Sakit Nasional Guido Valadares, Dili, karena dadanya merasa sakit. Ia sudah delapan bulan berhenti merokok karena gangguan pada paru-parunya. Setelah menjalani pemeriksaan, ia diperbolehkan pulang. Tetapi sehari kemudian ia kembali dilarikan ke rumah sakit karena jatuh di kamar mandi. Ia meninggal tak lama sesudah tiba di rumah sakit.

Ular Rheik dilahirkan di desa Bibileu, Viqueque, 56 tahun yang lalu dengan nama Virgílio dos Anjos. Dia adalah anak ke-3 dari pasangan Madalena dan Celestino dos Anjos yang dikarunia tujuh anak (empat laki-laki dan tiga perempuan). Sewaktu masih bujangan, Celestino dos Anjos pada masa Perang Dunia II mendapatkan pelatihan militer tentara Australia karena direkrut untuk membantu operasi gerilya pasukan khusus angkatan bersenjata Australia Kompi Independen 2/2 menghadapi tentara Jepang yang menduduki Timer-Leste. Atas jasa-jasanya, setelah Perang Dunia berakhir, Celestino mendapatkan bintang penghargaan dari angkatan bersenjata Australia.

Virgílio dos Anjos menempuh pendidikannya di sekolah misi Katolik di Ossu, yang terletak sekitar 30 km dari desanya. Setelah menyelesaikan sekolahnya, ia menjadi guru sekolah dasar di sekolah yang sama. Pada waktu berlaku peraturan pemerintah kolonial Portugis bahwa semua orang yang berpendidikan harus memasuki dinas wajib militer dua tahun. Ketika masanya tiba, Virgílio pun memasuki dinas pada angkatan bersenjata Portugis. Tidak lama setelah selesai mengikuti pendidikan militer, pada 1974 Virgílio diangkat menjadi wakil komandan kompi di Viqueque.

Revolusi Bunga Anyelir (Revolução dos Cravos) menggulingkan pemerintahan diktator Caetano di Portugal menimbulkan kebangkitan politik di Timor-Leste. Muncul partai-partai politik dengan agenda masing-masing, dengan tiga partai terpenting Fretilin (Front Kemerdekaan Timor-Leste) yang menginginkan kemerdekaan segera, UDT (Uni Demokrat Timor) yang menginginkan kemerdekaan bertahap setelah 15 tahun, dan Apodeti (Asosiasi Kerakyatan Demokratis Timor) yang menginginkan integrasi Timor-Leste ke dalam negara Indonesia. Virgílio tidak masuk salah satu partai politik karena sebagai anggota angkatan bersenjata dia terikat pada ketentuan “apartidarismo” (tidak berpartai) yang berlaku di dalam angkatan bersenjata Portugis.

Pada 11 Agustus UDT melancarkan gerakan bersenjata menangkap sejumlah pemimpin Fretilin dan mendesak pemerintah Portugis untuk mengusir sejumlah pemimpin Fretilin dan sejumlah pejabat pemerintah Portugis yang mereka anggap “radikal”. Karena pemerintah Portugis tidak bisa menguasai keadaan, Fretilin melakukan tindakan balasan setelah terlebih dahulu mendapatkan dukungan dari orang-orang Timor-Leste anggota angkatan bersenjata kolonial. UDT dan sekutu-sekutunya terpukul mundur dan lari melintasi perbatasan ke Atambua setelah pertempuran “perang saudara” selama tiga minggu. Karena pemerintah Portugis tidak kunjung memenuhi seruan Fretilin agar kembali untuk melanjutkan pelaksanaan dekolonisasi yang telah mereka mulai, Fretilin pun mereorganisasi angkatan bersenjata Portugis menjadi Forças Armadas da Libertação Nacional de Timor-Leste (Falintil – Tentara Pembebasan Nasional Timor-Leste). Hal ini juga mereka lakukan karena tentara Indonesia sejak bulan September sudah mulai melakukan aksi-aksi penyusupan lintas batas dari Atambua. Virgílio dos Anjos pun bertugas sebagai wakil komandan kompi dari Falintil.

Pada bulan Oktober tentara Indonesia mulai melancarkan invasi terhadap kota-kota kecil perbatasan Timor-Leste seperti Balibo. Pada pagi harinya 28 November 1975 kota Atabae jatuh setelah digempur dari darat, laut dan udara oleh tentara Indonesia. Sore harinya, untuk mencegah Indonesia menduduki Timor-Leste yang waktu itu vakuum kekuasaan karena perginya pemerintah kolonial Portugis, Fretilin pun mengumumkan berdirinya negara merdeka Republik Demokratik Timor-Leste. Falintil pun menjadi angkatan bersenjata dari negara yang baru diproklamasikan ini. Namun proklamasi tersebut tidak membuat pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Presiden Soeharto menghentikan niatnya melakukan aneksasi. Republik Demokratik Timor-Leste diinvasi dari darat, laut dan udara oleh tentara Indonesia pada 7 Desember 1975. Pemerintah yang didirikan Fretilin mengungsi ke pegunungan,mendirikan pemerintahan di hutan di wilayah yang mereka sebut ‘zonas libertadas’ (wilayah yang dibebaskan). Sekitar 80% penduduk sipil ikut bersama mereka. Falintil pun melakukan ‘guerra popular prolongada’ (perang rakyat jangka panjang) dari pangkalan mereka di pegunungan.

Meskipun Falintil kalah dari segi jumlah kekuatan personil maupun persenjataan, sulit bagi Indonesia untuk mengalahkan mereka. Berbagai operasi militer dilancarkan Indonesia untuk menghancurkan zonas libertadas. Akhirnya dengan bantuan persenjataan dari Amerika Serikat, semua pangkalan Falintil di zonas libertadas berhasil dihancurkan oleh tentara Indonesia pada ofensif yang dilakukan akhir 1978 hingga pertengahan 1979. Falintil yang tidak mendapatkan bantuan persenjataan dari manapun, tidak bisa menghadapi pesawat-pesawat counter-insurgency OV 10 Bronco yang baru didapatkan angkatan bersenjata Indonesia dari Amerika Serikat. Jenis pesawat ini memang dirancang khusus untuk menghadapai gerilya di medan yang bergunung-gunung.

Dengan hancurnya zonas libertadas, penduduk sipil turun gunung menyerah kepada tentara Indonesia. Sementara satuan-satuan tentara Falintil yang selamat dari penghancuran meneruskan perjuangan bersenjata di hutan-hutan, kali ini tanpa mempertahankan pangkalan tetap. Ketika penduduk sipil menyerah, di antara mereka sebenarnya terdapat anggota-anggota Falintil dan kader-kader politik yang menyamar sebagai penduduk sipil. Mereka ikut turun gunung dengan tugas untuk mencari jalan untuk mendukung perjuangan rekan-rekan mereka yang masih bertahan di hutan. Virgílio dos Anjos adalah salah satu dari anggota Falintil yang turun bersama penduduk sipil.

Penduduk yang turun gunung oleh tentara Indonesia tidak diperbolehkan kembali ke desa masing-masing. Mereka ditempatkan di desa-desa baru yang diawasi dengan ketat oleh tentara Indonesia. Virgílio dos Anjos bersama keluarganya ditempatkan di kawasan Kraras. Tidak lama kemudian ia aktif dalam kegiatan kepemudaan yang diselenggarakan Indonesia dengan untuk membina pemuda Timor-Leste agar setia kepada Indonesia. Di dalam kegiatan kepemudaan inilah diam-diam Virgílio membangun jaringan clandestina untuk mendukung para pejuang Falintil yang belum menyerah.

Kerja clandestina Virgílio dos Anjos demikian rapihnya, sehingga tidak diketahui oleh tentara Indonesia. Sampai-sampai ketika tentara Indonesia membentuk satuan Ratih (Rakyat Terlatih), Virgílio termasuk yang direrut ke dalamnya. Satuan ini adalah sejenis Hansip (Pertahanan Sipil) yang ada di Jawa. Tetapi berbeda dengan di Jawa, Ratih di Timor-Leste dipersenjatai dengan senjata standar tentara Indonesia dan beroperasi langsung di bawah tentara Indonesia. Di antara para mantan anggota Falintil yang masuk Ratih terjadi saling hubungan. Merekapun dengan berbagai macam cara berhubungan clandestina dengan gerilyawan Falintil yang beroperasi di hutan-hutan.

Pada 1983, setelah beberapa kali dilakukan perundingan, Panglima Falintil Xanana Gusmão dan Komandan Korem 074/Wira Dharma Timor Timur Kolonel Purwanto mengadakan gencatan senjata sementara. Tetapi gancatan senjata ini hanya berlangsung beberapa bulan karena dari Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang baru, Jenderal Benny Moerdani mengambil garis kebijakan yang keras menghadapi apa yang mereka sebut “Gerakan Pengacau Keamanan” (GPK). Falintil pun melancarkan “Levantamento” (kebangkitan), yaitu memerintahkan penyerangan dan pembelotan satuan-satuan Ratih yang beranggotakan mantan-mantan anggota Falintil. Dua komandan Ratih paling utama yang memimpin pemberontakan adalah Virgílio dos Anjos di Kraras dan Falur Rate Laek di Ossu. Serangan yang dilakukan Ratih di bawah pimpinan Virgílio dos Anjos berhasil menghabisi satu peleton Zipur yang berpangkalan di Kraras. Hanya satu orang tentara Indonesia yang selamat dari serangan ini, karena dia bersembunyi dengan memanjat sebatang pohon kosambi yang tinggi.

Levantamento Ratih dibalas dengan kejam oleh tentara Indonesia. Hampir semua laki-laki dewasa di Kraras dibantai oleh tentara Indonesia, sehingga sesudah itu Kraras dikenal sebagai “desa janda.” Celestino dos Anjos, ayah Virgílio ditangkap dan ditahan tentara Indonesia. Tentara Indonesia juga menahan Alda (alias Bui Hare), istri Virgílio yang sedang hamil. Akhirnya kedua orang itu mati akibat tidak tahan siksaan dalam tahanan tentara Indonesia.

Setelah Levantamento, Virgílio dos Anjos kembali menjalani kehidupan sebagai pejuang Falintil di hutan. Pasukan Ratih yang lari ke hutan di bawah pimpinannya digabungkan dengan Ratih di bawah pimpinan Falur Rate Laek menjadi satu kompi, yaitu Kompi 3 Falintil. Falur Rate Laek menjadi primeiro comandante (komandan pertama) dan Virgílio dos Anjos menjadi segundo comandante (komandan kedua atau wakil komandan).

Dengan terjadinya perombakan dalam tubuh Falintil pada 1984, Virgílio yang selanjutnya menggunakan nama perjuangan Ular Rheik (kata-kata bahasa Tetun Terik, artinya: Ular Ganas), menempati posisi sebagai segundo comandante Unidade A yang beroperasi di kawasan timur, primeiro comandante-nya adalah Lere Anan Timor (sekarang Kepala Staf Angkatan Pertahanan Timor-Leste). Ketika pada 1996 Falintil merombak lagi wilayah operasinya, Comandante Ular Rheik mendapat tugas baru. Ia pindah dari wilayah timur ke barat karena Panglima Falintil Kayrala Xanana menunjuknya sebagai Comandante Região 4 (Komandan Wilayah 4). Waktu itu hingga perang berakhir pada 1999 Falintil membagi Timor-Leste ke dalam 4 região: Regiao 1 untuk Lospalos, Viqueque dan Baucau, Região 2 untuk Manatuto, Aileu, Manufahi dan Ainaro, dan Região 4 untuk Bobonaro, Covalima, Ermera dan Liquiça. Di bawah kepemimpinan Comandante Ular, Região 4 sangat rapih dan kuat dalam pengorganisasian jaringan clandestina, sehingga ketika Nino Konis Santana menggantikan Kayrala Xanana yang tertangkap tentara Indonesia pada 1992, ia pun menempatkan markasnya di Ermera yang berada dalam tanggungjawab Comandante Ular.

Tanggungawab sebagai Comandante Região 4 dipikul Ular Rheik hingga Falintil memasuki acantonamento (cantonment atau pengantongan) setelah Perjanjian 5 Mei 1999 mengenai referendum untuk menentukan masa depan politik Timor-Leste yang dilaksanakan Agustus 1999. Pada waktu itu, Panglima Falintil Kayrala Xanana mengeluarkan perintah melarang satuan-satuan Falintil melakukan penyerangan, suatu keputusan yang dengan berat diterima oleh Comandante Ular Rheik, karena waktu itu milisi-milisi anti-kemerdekaan justru sedang melakukan serangan yang luas terhadap penduduk sipil yang mendukung kemerdekaan. Masa acantonamento diperpanjang setelah Referendum dimenangkan oleh pihak pro-kemerdekaan. Hanya saja sekarang Falintil dari seluruh wilayah dipindahkan ke Aileu.

Pada 2001 dibentuk angkatan bersenjata yang baru untuk negara Timor-Leste Merdeka. Falintil menjadi tulang punggung Forças Defesa de Timor-Leste (FDTL – Angkatan Pertahanan Timor-Leste), yang setelah penyerahan kedaulatan dari PBB ke Timor-Leste namanya diubah menjadi Falintil-FDTL (F-FDTL). Ular Rheik pun mengikuti berbagai pendidikan militer di luar negeri yang diperlukan untuk membangun tentara profesional, yang sangat berbeda dengan tentara gerilya pembebasan nasional. Dalam F-FDTL, dia mendapat pangkat mayor, yang disandangnya hingga akhir hayatnya.

Meskipun di F-FDTL dia bertugas di staf umum sebagai kepala bagian administrasi keuangan, tidak berarti dia tidak mengurusi operasi. Ketika saat-saat membutuhkan ia kembali memanggul senjatanya. Misalnya ketika sepasukan milisi anti-kemerdekaan melakukan penyusupan dari wilayah Atambua masuk hingga Ermera di wilayah tengah pada tahun 2001, Komando FDTL menugaskannya memimpin operasi menghadapi mereka. Ia juga ditunjuk memimpin operasi ketika ratusan anggota F-FDTL yang melakukan desersi melakukan penyerangan tehadap markas F-FDTL pada Mei 2006. Ia kembali meninggalkan tugas administrasinya setelah terjadinya penembakan terhadap Presiden José Ramos-Horta Februari 2008. Komando F-FDTL memerintahkannya memimpin operasi di wilayah Ermera untuk mencari desertir F-FDTL anak buah ex-Mayor Alfredo Reinado Alves yang disangka melakukan penembakan tersebut.

Meskipun hampir seluruh usia dewasanya dihabiskan dalam kehidupan militer, tidak berarti Ular Rheik hanya pandai bertempur. Dia juga terampil dalam menyelesaikan konflik. Kemampuannya ini dibuktikan ketika bulan Januari 2009 terjadi konflik kekerasan antar warga suco Bahlara-Wain di distrik Viqueque. Sekretaris Negara Urusan Keamanan (Sekretaris Negara adalah jabatan seperti Menteri Muda di Indonesia) memintanya menjadi mediator untuk menyelesaikan konflik yang diberitakan sebagai konflik antar kelompok perguruan bela diri itu. Mayor Ular tinggal beberapa bulan dengan penduduk setempat untuk membangun rasa saling percaya antar penduduk yang berkonflik dan mencari tahu pesoalan yang sebenarnya. Ternyata persoalannya jauh lebih lama dan rumit, terkait dengan perbedaan politik masa kebangkitan politik 1975 yang berkelanjutan sepanjang masa pendudukan Indonesia. Kepada pihak-pihak yang berkonflik, mantan gerilyawan terkenal ini menegaskan: “Kekerasan bukanlah cara terbaik untuk menyelesaian perbedaan.”

Pejabat tinggi militer ini hidup sangat sederhana. Jika tidak berdinas, ia lebih sering mengendarai sepeda motornya daripada naik mobil dinas. Ular Rheik meninggal dunia dengan meninggalkan istrinya, Jovita Araújo asal Ermera. Ular baru menikah lagi setelah perang pembebasan nasional berakhir pada 1999. Mereka dikarunia lima orang anak yang mash kecil-kecil, yang sulung sekarang berusia 8 tahun dan yang bungsu baru berusia 7 bulan.

Selamat jalan Comandate Ular, di jalan menuju sorga anda akan senang berkenalan dan ngobrol dengan salah satu anak terbaik bangsa Indonesia, Abdurrahman Wahid, mantan Presiden Indonesia yang sangat lucu dan tidak anti-kemerdekaan Timor-Leste, yang ketika mengunjungi Timor-Leste meminta maaf atas penderitaan rakyat Timor-Leste akibat kesalahan keputusan politik pemerintah Indonesia di masa lalu.

Dili, 7 Januari 2009

Comandante Ular Rheik (berseragam militer), di belakangnya bukan stafnya, tapi orang yang numpang ngetop. Foto diambil oleh Castelo Carvalho, di Kraras, Oktober 2009.

Mayor Ular Rheik di depan Balai Pertemuan Kraras. Dia adalah salah satu pembina kegiatan balai pertemuan di kampung halamannya ini. Foto diambil oleh Nug Katjasungkana, Oktober 2009.

Note:

Copy dari Facebooknya mas Nug Katjasungkana

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

9 Responses to Ular Rheik, mantan GPK Timtim (Comandante Região 4 Falintil)

  1. Josep says:

    KNP MINTA MAAF PD PENGKHIANAT ???? TAK PERLU LAH…DAN INGAT TIMOR LESTE BISA MAJU SEPERTI SKRG KRN INDONESIA, KALAU DULU PADA WAKTU PERANG SAUDARA DI TIMOR LESTE TDK DIBANTU INDONESIA, SAYA YAKIN SKRG TIMOR LESTE TAK UBAHNYA SEPERTI KOTA HANTU….HANTU KORBAN2 FRETELLIN KOMUNIS DI BAWAH PANJI2 PORTUGAL….

  2. Josep says:

    PEMBANTAIAN FRETELLIN DI TAHUN 1975

    PEMBUNUHAN MASAL YG DILAKUKAN FRETILIN TERJADI DI : DILI, AILEU,MAUBISSE-AINARO-SAME-ERMERA-BAZARTETE-LIQUICA-MAUBARA-FATUBOU-LOIS-MALIANA-CAILACO-HATULIA-ATABAI-BATUGADE-LACLUBAR-LALEIA-FATUBERLIU-SOIBADA-LACLUTA-BUCOLI-FATUMACA-VENILALE-WATULARI-WATUCARBAO-QUELICAI-BAGUIA-LAGA-ILIOMAR-LORE-MORO-LURO-TUTUALA-LOSPALOS

    PEMIMPIN-PEMIMPIN YG BERTANGGUNG JAWAB ATAS KEMATIAN LAWAN POLITIK DAN RAKYAT TAK BERDOSA:

    1. HERMENEGILDO ALVES
    2. ALARICO FERNANDES
    3. HELIO PINA
    4. JULIO CESAR (MAULAKA)
    5. ANTONIA CARVARINO (MAULEAR)
    6. JOSE DA SILVA
    7. JOAO MONTALVAO
    8. INACIO JUVENAL (SERAKEI)
    9. ABEL FREITAS XIMENES (LARI SINA)
    10. ANTONINHO (LERE BOTE -MAU)
    11. ALKATIRI
    12. INACIO FONSECA (SOLAN)
    13. CIRILO NUNES (MAUBARANY)
    14. JOSE ALEXANDER GUSMAO (XANANA GUSMAO)
    15. ANTONIO MANUEL GOMES DA COSTA-MANECAS (MAUHUNO)
    16. JOSE ANACIO DA COSTA (MAUHUDO)
    17. NUNO RAMOS HORTA

    YG DIKENAL SEBAGAI PASUKAN MAUT ADALAH :

    1. JOSE ARAUJO
    2. HUMBERTO ARAUJO
    3. FRANCISCO ABILAY
    4. COSME DA COSTA
    5. PEDRO AQUINO
    6. MARITO REIS
    7. EUSEBIO CORSINO

    PENANGGUNG JAWAB BEBERAPA KASUS PEMBUNUHAN TERHADAP TAHANAN DI AILEU, MAUBISE DAN SAME :

    1. HERMENEGILDO ALVES
    2. ALARICO FERNANDES
    3. HELIO PINA
    4. JULIO CESAR (MAULAKA)
    5. ANTONIO CARVARINO (MAULEAR)
    6. JOSE DA SILVA
    7. JOAO MONTALVAO
    8. INACIO JUVENAL (SERAKEI)
    9. ABEL FREITAS XIMENES (LARI SINA)
    10. JANUARIO LOBATO
    11. ANTONINHO ( LERE BOTE-MAU)
    12. ALKATIRI
    13. INACIO FONSECA (SOLAN)
    14. JOSE ALEXANDER GUSMAO (XANANA GUSMAO)
    15. ANTONIO MANUEL GOMES DA COSTA-MANECAS (MAU HUNO)
    16. JOSE AMANCIO DA COSTA (MAU HUDO)

    YG BERTANGGUNG JAWAB ATAS PEMBUNUHAN TERHADAP LETNAN KOLONEL PORTUGIS MAGIOLLO GOUVEIA DI AILEU BULAN DESEMBER 75 ADALAH :

    1. HERMENEGILDO ALVES
    2. ALARICO FERNANDES
    3. HELIO PINA
    4. JULIO CESAR (MAULAKA)
    5. ANTONIO CARVARINO (MAULEAR)
    6. JOSE DA SILVA
    7. JOAO MONTALVAO
    8. INACIO JUVENAL (SERAKEI)
    9. JOSE ALEXANDER GUSMAO (XANANA GUSMAO)
    10. ABEL FREITAS XIMENES (LARI SINA)
    11. JANUARIO LOBATO
    12. ANTONIO MANUEL GOMES DA COSTA-MANECAS (MAU HUNO)
    13. ANTONINHO ( LERE BOTE-MAU)
    14. ALKATIRI
    15. INACIO FONSECA (SOLAN)
    16. JOSE AMANCIO DA COSTA (MAU HUDO)
    YG BERTANGGUNG JAWAB ATAS PEMBUNUHAN TERHADAP AQUILES FREITAS BELO, PONCIANO FREITAS DAN GURU AGAMA KATOLIK TEODOSIO FREITAS DI VENILALE, BULAN MARET 1976 :

    1. HERMENEGILDO ALVES
    2. CIRILO NUNES
    3. MARITO REIS
    4. EUSEBIO CORSINO
    5. JOSE ALEXANDER GUSMAO (XANANA GUSMAO)
    6. NUNO RAMOS HORTA
    7. JOSE AMANCIO DA COSTA ( MAU HUDO)

    YG BERTANGGUNG JAWAB ATAS PEMBUNUHAN TERHADAP ADAO AMARAL DAN JOSE DOS SANTOS DI GUNUNG MATEBIAN QUELICAI ADALAH :

    1. INACIO JUVENAL
    2. JOSE ALEXANDERE GUSMAO (XANANA GUSMAO)
    3. ANTONIO MANUEL GOMES DA COSTA-MANECAS (MAU HUNO)
    4. JOSE AMACIO DA COSTA (MAU HUDO)
    5. INACIO FONSECA (SOLAN)
    6. ANTONIO SANTANA (MAUKONIS)
    7. FERNANDO TELES ( TXAI)
    8. MARCOS DA COSTA RUBILEKI
    9. FORTUNATO CONCECAO (NIANLAU)

    YG BERTANGGUNG JAWAB ATAS PEMBUNUHAN TERHADAP JOSE EXPOSTO DI AILEU BULAN DESEMBER 1975 ADALAH :

    1. HERMENEGILDO ALVES
    2. HELIO PINA
    3. JULIO CESAR
    4. JOSE DA SILVA
    5. JOAO MONTALVAO
    6. EDUARDO DA COSTA
    7. HUMBERTO ARAUJO

    HAL-HAL MENGERIKAN LAINNYA ADALAH :

    XANANA GUSMAO TELAH MEMERINTAHKAN EKSEKUSI TERHADAP PAMANNYA SENDIRI, FERNANDO DE SOUSA, KARENA DENDAM PRIBADI. DI BUIBELA, BAGUIA, BULAN SEPTEMBER 1977

    JOSE AMANCIO DA COSTA (MAU HUDO) TELAH MEMERINTAHKAN EKSEKUSI TERHADAP PAMANNYA SENDIRI ANTONIO FREITAS, KARENA MEMILIH TAMPIL SEBAGAI ANGGOTA FRETILIN NON KOMUNIS BULAN FEBRUARI 1976

    TAHANAN SERINGKALI DISIKSA SAMPAI TIDAK SADARKAN DIRI.

    YG DIEKSEKUSI BIASANYA DIPAKSA MENGGALI KUBURANNYA SENDIRI.
    ANAK PEREMPUAN, ADIK PEREMPUAN ATAU ISTRI BIASANYA DIPAKSA MENJADI OBYEK PEMUAS NAFSU.

    “CAMPOS DE APOVO” DAN “BAIRIA”

    JENIS PENJARA BERUPA LUBANG DI BAWAH TANAH TEMPAT MENYEKAP TAHANAN DALAM SIKSAAN DILUAR PERI KEMANUSIAAN SERTA KONDISI YG LEBIH JELEK DARIPADA BINATANG DI MANA TAHANAN DINATASI MAKAN DAN MINUM SAMPAI DIEKSEKUSI. (Doktrin & ilham Praksis Komunis)

    BULAN DESEMBER 1976, DI LALEI, ANTONIO GOMES DA COSTA (MAU HUNO)
    MEMERINTAHKAN PEMBUNUHAN TERHADAP ADIK KANDUNGGNYA SENDIRI, CARLOS DA COSTA GOMES KERENA MEMBERI BANTUAN KEPADA ANGGOTA-ANGGOTA UDT .

    TANGGAL 24 SEPTEMBER 1984, JAM 10.30, DI WAIKNASSA, VEMASSE, KABUPATEN BAUCAU XANANA GUSMAO, MAU HUNO,MAU HUDO, DAN KONIS SANTANA MEMERINTAHKAN PEMBUNUHAN TERHADAP KILIK WAIGAE REINALDO FREITAS BELO KEPALA STAF FALINTIL (CHEFE DO ESTADO-MAIOR DA FALINTIL)

    MEREKA YG NAMANYA TERDAFTAR TERSEBUT HARUSLAH TERLEBIH DULU DIADILI BARU SETELAH ITU KITA MENGADILI PARA MILISIA. AGAR ADA KESEIMBANGAN DIDALAM PENEGAKKAN KEADILAN

    • Israel says:

      hebat benar saudara josep,komentar anda ini berlatarbelakang dendam sama sprti saudara2mu, tni dan penjahat indonesia lainnya, mereka membunuh paman kamu krna politik mereka mau jadi kaki tangan penjahat2 indonesia, coba analisa lgi mbamu indo sdh membunuh rkyt timor leste 250 ribu apa itu itu tdk gila…….

  3. Barbosa Wy says:

    Semangat berjuang……….

  4. joao says:

    jangan jadikan sejarah polimik di massa lampau untuk membenarkan tindakan radikalisme yang di lakukan oleh pasukan indonesia.jika seandainya TNI/ABRI pada waktu itu tidak mengikuti nasehat atau masukan dari negara yang sampai saat tidak bertanggung jawab, tentu , panglima dan dan para pejabat indonesia tidak di hakimi oleh dunia internasional yang mungkin saat ini di kenal dengan nama Pelanggaran hak asasi manusia, VIVA Timor Leste……………Viva Indonesia……….

  5. joao says:

    ketahuilah sejarah,dan belajarlah sejarah, jika kita ingin berbicara sejarah, timor leste dan indonesia bukanlah musuh saat ini, tapi saudara tentangga yang hebat. individu indonesia yang salah maka hakimilah dia dengan keadilan, jika tindividu Timor leste yang salah maka adililah dia dengan keadilan, jangan berfikir parsial saudaraku. indonesia dan timor leste punya massa depan yang sama.

  6. atay says:

    jangan biarkan massa lalu menghalangi massa depan timor leste dan indonesia,karena massa depan merupakan massa yang paling terbaik.

  7. DIO INDRA SH. MH says:

    PENGALAMAN SEJARAH APAPUN KITA JADIKAN GURU YANG BAIK DAN BIJAKSANA.KEPUTUSAN APAPUN YANG SIFATNYA STRATEGIS PENTING JANGAN SAMPAI DIPUTUSKAN HANYA KARENA TEKANAN DARI NEGARA LAIN.INDONESIA ADALAH NEGARA YANG BERDAULAT PENUH .APALAGI DIPENGARUHI OLEH NEGARA YANG BERMUKA DUA MUNAFIK SEPERTI USA,ISRAEL,AUSTRALIA DAN NEGARA LIBERAL YANG SAMA BESAR BAHAYANYA DENGAN KOMUNIS.JANGAN TAKUT DI EMBARGO.INDONESIA KAYA ALAMNYA HASIL TAMBANG BATUBARA EMAS URANIUM ,BAUKSIT,MINERAL,INTAN ,BIJI BESI,MINYAK BUMI, KAYU DAN JUMLAH PEOPLE POWER RAKYATNYA YANG 175 JUTA ORANG MERUPAKAN ASSET BAGI NKRI. AGGARAN UNTUK PEMBELIAN ALUSTISTA PERSENJATAAN TNI AD,TNI AL ,TNI AU DITAMBAH UNTUK MENJAGA KEDAULATAN NKRI BERUPA RADAR CANGGÌH PERTAHANAN UDARA, RUDAL PERTAHANAN UDARA ,RUDAL DARI DARAT KE DARAT,RUDAL DARI KAPAL PERANG KE LAUT/KAPAL, RUDA ALTELERI PERTAHANAN UDARA ARHANNUD , ALTELERI MEDAN ,KAPAL PERANG DESTROYER, CRUISHER ,KAPAL SELAM CANGGIH, KAPAL INDUK ,TANK SEKELAS STANDART NATO,PANSER LAPIS BAJA,SENAPAN SERBU STANDART NATO,RPG ANTI TANK,RANJAU DARAT ANTI PERSONIL,RANJAU DARAT ANTI TANK RANPUR,RANJAU LAUT ANTI KAPAL PERANG,,PESAWAT TEMPUR SEKELAS F 16,M4 29 SUKHOI ,PESAWAT PEMBOM B 29 ,BLACK JACK,PESAWAT PATROLI TEMPUR SEKELAS MIG 29, F 28 HORNET ,PESAWAT MATA MATA INTAI TEMPUR AWACS, NOMAD ,PESAWAT TANGKER ISI BBM DI UDARA,PESAWAT ANGKUT BESAR PASUKAN ATAUPUN RANPUR ,,PESAWAT CARGO SEKELAS ANTONOV ATAU HERKULES. DIBENTUK SATUAN GABUNGAN AD,AL,AU+POLRI DITEMPATKAN DIMASING MASING KOMANDO KEWILAYAHAN DIBAWAH KOMANDO PANGLIMA ABRI WAKILNYA WAKIL PANGLIMA ABRI BIDANG OPERASI DAN ASST WAKIL NYA PANGLIMA KODAM MASING -MASING.PASUKAN INTINYA KOPASUS,KOPASKHAS,MARINIR,KOPASKA,INTAI AMFIBI,BRIMOB.MERDEKA DAN JAYA NKRI HARGA MATI.

  8. Pingback: ULAR RHEIK, MANTAN GPK TIMTIM (COMANDANTE REGIÃO 4 FALINTIL) | Kisah Timor Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s