Cinta yang tulus

Seorang anak laki-laki bertengkar mulut dengan ibunya. Dia pun marah lalu berlalu meninggalkan rumah.

Anak laki-laki itu seorang diri terus berjalan di tepi jalan, tak tahu berapa lama sudah dia berjalan, langit mulai gelap, orang-orang yang ada di jalan juga perlahan-lahan semakin sedikit.

Di pinggir jalan terdapatlah sebuah kios makan kecil, tercium bau harum dari mie di dalam wajan yang sedang dimasak. Waktu itulah, si anak laki-laki merasa cacing-cacing di dalam perutnya meronta-ronta kelaparan. Langkahnya pun perlahan-lahan melambat.

Empunya kios kecil itu  seorang kakek yang sudah tua, bertanya kepadanya apakah dia mau makan semangkok mie?Tapi dengan malu-malu si anak berkata bahwa dia tak membawa uang sepeserpun untuk membayar mie. ‘tidak apa-apa, aku traktir kamu makan’. Kakek tua itu sambil memasak juga berbicara. Cepat sekali, semangkuk mie dengan aromanya yang sedap langsung disajikan ke hadapan si anak laki-laki. Sang anak pun sangat berterimakasih dan sopan mengambil mangkuk mie itu, baru saja makan sesuap, air matanya tak terasa jatuh bercucuran. Kakek tua pun bertanya kenapa, ‘tidak apa-apa, saya hanya merasa sangat terharu dengan kebaikan kakek.’ Dia pun mengusap air matanya, ‘anda tidak kenal aku, tapi bisa baik sekali dengan aku, tapi mamaku… ‘ si anak laki-lakipun tak mampu meneruskan kata-katanya.

Sang kakek tua dengan bijaksananya berkata : “Nak, Kakek hanya memasakkan semangkuk mie untukmu, kamu langsung merasa terharu dan sangat berterimakasih padaku, tapi mamamu sudah berpuluh tahun memberimu makan, memasakkan makanan untukmu, kenapa kamu tidak merasa berterima kasih kepada dia?’ Mendengar kata-kata sang kakek, si anakpun tiba-tiba berhenti menangis. Mangkuk mie yang belum selesai disantapnya pun diletakkan di meja, lalu dia secepat kilat berlari kembali ke rumahnya.

Saat si anak laki-laki sampai di dekat rumahnya, tampaklah olehnya mama sedang berdiri di jalan dekat rumah kebingungan mencari-cari anak kesayangannya, angin musim gugur yang kering tampak mengacak-acak rambutnya yang indah.

Melihat pemandangan itu, tak terasa air mata sang anak jatuh bercucuran…

Sumber: http://intan.blog.ugm.ac.id/2012/07/28/cinta-yang-tulus-itu/

This entry was posted in Hiburan & Hubungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s